Minggu lalu kami jalan-jalan di Tampak Siring, Bali. Dan ketemu dengan Bapak ini. Selayaknya ketemu dengan orang asing, kita cuma saling sapa. Saling bercerita, tanpa merasa perlu menanyakan nama masing2 atau memperkenalkan diri secara formil.
Ya, kami dihampirinya. Kemudian dia selayaknya guide di tempat wisata, menjelaskan mengenai Istana Tampak Siring dan kompleks Pura Tirta Empul yang letaknya bersebelahan.
Selama si Bapak mendampingi kami, aku perhatiin dia. Dan diam-diam ada banyak pertanyaan mengenai beliau yang tentu aja ga akan berani buat aku tanyain ke beliau. Karena pertanyaan itu bakal kedenger lancang sekali.
Aku bertanya-tanya dalam hati soal baju yang dipake si bapak. Karena si bapak sangat sangat sangat sederhana sekali. Pake baju kaos putih berkerah sedikit robek karena usang. Dan kaosnya pun bukan jenis kaos bermerk. Kemungkinan besar itu adalah kaos free / kaos hadiah. Karena aku bisa liat tulisan POLAROID di bagian saku kaos dan di bagian belakang kaos itu. Topi bali dan kain balinya berwarna. Tapi warnanya udah keliatan pias. Alas kakinya cuma sendal jepit.
Aku mikir.. waaah .. si Bapak sederhana sekali. Tapi aku yakin. Si Bapak bukan orang sembarangan. Karna beliau walaupun tidak memikirkan hal-hal duniawi berupa baju baru rapih dan bagus, si Bapak terlihat bersih. Bersih sekali. Wajahnya bersih. Topi, baju, kain dan sandal jepitnya bersih. Dan sama sekali ga jorok ataupun bau. Pokoknya bersih banget orangnya.
Kata-kata yang mengalir dari si Bapak juga terdengar santun, seperti gaya bicara orang Bali pada umumnya. Yang mengucap kata perkata dengan lambat dan pelan tapi jelas terdengar. Di tiap perkataan dan penjelasan si Bapak, ada beberapa pesan yang bijak terdengar.
Sebenernya, ada beberapa pertanyaan yang pengen aku tanya ke beliau. Tapi aku yakin, dengan orang-orang seperti beliau, kita tidak sepatutnya banyak tanya. Yang dikehendaki oleh orang-orang seperti beliau adalah lebih ke metode “Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani”. Atau bisa diartiin “Di depan memberi teladan, di tengah memberi bimbingan, di belakang memberi dorongan”. Jadi, aku kalo mau mengambil pelajaran dari beliau, lebih baik aku mengamati dan meneladani beliau. Jangan terlalu banyak tanya. Amatin aja. Dan ambil hikmahnya.
Ga gampang di jaman sekarang untuk bersikap sederhana dan meninggalkan keduniawian. Yaaa… berat lah. Di mana-mana ada empat huruf yang suka bikin ibu2 kelenger. Empat huruf : s.a.l.e.
Udah punya baju putih. Tapi begitu maen ke mall, liat ada baju putih yang beda model. Laaah … kok bagus. Diskon pula. Akhirnya beli. Yang gitu gitu tuh yang susah. Dan biasanya, umumnya, kalo udah begini, boro-boro mau bijaksana dan bertutur kata yang lembut halus dan sopan. Biasanya gaya udah gaya gaul aja.
Baiklah, Bapak Bali (yang kami tidak tahu siapa namanya)… Makasih sebanyak-banyaknya aku ucapin buat Bapak. Yang sudah ngasih aku banyak pelajaran dan tauladan. Yang udah mendoakan aku pas kita pisah. Oiya, beliau sempat berucap gini di akhir pertemuan, “Selamat pulang kembali. Semoga selamat di jalan sampai tujuan”. Aku doain Bapak juga selamat dan bahagia di dunia dan akhirat ya Pak…. Amiiiin ….




Dan setelah di scroll down .. aku ketemu ini ..

