Barusan tadi baca blognya Wiwik. Speechless. Neneknya sudah berpulang.
Aku inget dulu, tahun 2001, waktu ibuku (aku panggil beliau Umak), meninggal dunia. Sedihnya.
Tiga bulan sebelum umak meninggal aku mimpi. Ada dokter yang bilang ke aku kalo umurku tinggal 3 bulan lagi. Bangun tidur aku panik. Aku ceritain ke my hubby. Dan siangnya aku diajak ke rumah sakit buat cek sana cek sini. Ternyata memang ada semacem fibroid / kelenjar yang secara awam bisa digolongin sebagai tumor jinak di badanku. Akupun nurut aja begitu disuruh operasi sama sang dokter. I survived.
Ntah sebulan atau dua bulan dari itu, aku diajak temenku rafting. Arung jeram di sungai Citarik, Sukabumi. Dan perahu yang kutumpangi sukses kebalik. Kami jatuh dan hanyut di sungai beraliran deras. Aku sempet tenggelam dan posisiku pas timbul dari sungai bener2 ga nyaman, yaitu di dalem perahu karet yang kebalik itu, jadi ga ada yang ngeliat aku dan aku juga ga bisa ngapa2in, ga bisa teriak minta tolong. Dan akupun mikir, well, maybe inilah maksud mimpiku. This is the end of my journey. Tapi ternyata belom. Tim SAR berhasil nyelamatin semua peserta rafting. Aku masih idup.
Dan tiga bulan dari mimpiku, nothing was happened to me. Ternyata yang meninggal dunia adalah umak. Duh.
Aku down. Tiap abis sholat aku berusaha baca surat Yassin buat beliau. Tapi yang ada aku cuma sesenggukan tanpa bisa nyelesaiin doa aku. Akhirnya aku baca doa pendek. Al-Fatihah buat beliau.
Sekitar empat bulan dari itu aku mimpi umak lagi. Ceritanya aku dan beliau lagi pulang dari sholat di mesjid deket rumah. Dan sampelah kami di depan rumah kami (yang di Palembang). Tapi umak jalan terus. Terus ke halaman samping rumah. Sambil pegang tanganku. Aku diem. Bingung antara mau ikut atau mau masuk rumah. Umak ngajak,
“Ayo Yus. Ikut umak. Jangan takut. Ga sakit. Ayo”
Aku tambah bingung tapi kubiarin tangan beliau narik tanganku. Sampe tanganku yang satu lagi ditarik oleh seorang bapak2 berkopiah haji. Si bapak2 itu bilang ke aku,
“Tunggu. Ini belum waktunya buat kamu. Mati itu ga bisa dipercepat dan ga bisa diperlambat.”
Aku bangun. Antara bingung dan takut.
Ga lama setelah itu. Aku mimpi lagi. Mungkin sebulan atau dua bulan setelah itu. Kali ini aku mimpi sedang berdiri di tengah lapangan berumput hijau yang luaaaaas banget. Berdiri dengan umak. Umak megang tanganku. Senyum. Dan bilang,
“Yus, umak pamit ye. Sudah waktunya umak pergi.”
Dan badan umak mendadak ringan dan ringan. Umak dan beberapa orang lainnya tiba2 melayang ke atas. Tanganku masih digenggemnya. Tapi kami tambah lama tambah menjauh. Aku liat ke atas. Langit di atas dipenuhi warna yang indah. Kaya kembang api warna warni. Indah banget. Sulit nggambarinnya. Aku pertahanin genggeman tanganku dengan umak. Sambil manggil2.
“Umak … ! Jangan pergiii … Jangan pergiiii …”
Umak cuma senyum. Dan badannya tambah ringan. Melayang. Baju putih halusnya indah banget. Melambai halus seiring meringannya badannya melayang ke langit yang indah. Aku teriak lagi. Lebih kenceng,
“Umaaak … !! Jangan pergiiiii … “
Dan genggaman tangan kami lepas. Ninggalin aku yang masih teriak2 sambil nangis. Sampe aku bangun. Dibangunin my hubby yang mukanya keliatan shock abis.
Sampe sekarangpun aku sekali2 mimpiin umak. Kebanyakan kami cuma berdiri. Saling pandang tapi ga saling bicara. Kebanyakan kami cuma memandang sedih satu sama lain. Dan bangun dari tidur aku akan berdoa,
Umak, semoga umak bahagia di tempat umak sekarang. Di tempat langit yang indah itu. Seindah warna warni ribuan kembang api itu …

