Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Resensi Buku’ Category

Kisah LEGENDA

Buku-bukunya Stephenie Meyer unik ya. Yang serial Twilight itu loh. Judul2nya ; Twilight, New Moon, Eclipse, Breaking Dawn.

Ngebahas tentang legenda yang umum di dunia Barat sana. Tentang vampir dan juga manusia serigala. Karna ngebahas kisah cinta yang aneh (antar manusia, vampir dan juga werewolf), makanya buku ini jadi menarik.

Sama kaya buku2nya J.K Rowling yang laris manis gara2 ngebahas tentang tema yang ga umum. Dunia yang bukan dunia manusia biasa. Dunia para penyihir.

Tapi, setelah baca2 sampe buku ke-empat (Breaking Dawn), barulah aku sadar perbedaan yang jelas banget antara Stephenie Meyer sama Rowling. Bedanya adalah .. Rowling adalah tipe penulis yang ‘tegaan’. Ga peduli sama perasaan para pembacanya. Kalo menurutnya dalam pertarungan itu harus ada yang mati, ya dibikinnyalah mati si tokoh itu. Untuk membuat gambaran gimana sebenernya seremnya pertarungan para witches itu. Yang bisa berakibat kepada kematian. Dari awal aja udah dibikinnya orang tua si tokoh utama mati. Abis itu, si ayah baptis. Terus si kepala sekolah. Terakhir, si guru paling jahat (yg sebenernya juga melindungi). Dibikin mati juga.

Sementara si Meyer ga gitu. Walopun Bella, si tokoh utama -yang adalah manusia-, menjalin hubungan sama si vampir dan temenan sama si werewolf. But, nothing is happened. Ga ada satupun kematian baik dari pihak Bella dan manusia laen sebagai orang dekatnya. Ataupun dari pihak Edward dan keluarga vampirnya. Ataupun dari pihak Jacob dan keluarga werewolf nya. Nothing. Semua aman2 aja. Sampe buku keempat tamat.

Walopun seseru apapun beda pendapatnya. Seheboh apapun berantemnya. Setegang apapun pertarungannya. Teteup. Ntar2nya pasti happy ending. Si Bella akhirnya jadian sama Edward si vampir tanpa harus ada leher yang jadi korban. Jacob si werewolf yang tadinya mau saling bunuh dengan Edward malah akhirnya jadi temenan sama seluruh keluarganya si Edward. Si Jacob yang berselisih pendapat dengan keluarga werewolf (atau dibuku keempat malah disebut sebagai shape-shifter, bukan werewolf), malah akhirnya bisa menyatukan keluarga besar mereka dengan keluarga besar vampir. Pokoknya happy ending.

Di buku keempat, malah si Jacob ternyata adalah imprint (saling jodoh sejak pandangan pertama) dari anak Bella dan Edward. Jadi, lengkaplah mereka. Persatuan antara (mantan) manusia, vampir, manusia serigala, dan bayi setengah manusia setengah vampir. Happy .. happy .. happy ..

Memang sih, ada korban. Ada yang mati. Tapi, selalu dari pihak lawan. Ataupun pihak keluarga (jauh) yang memposisikan diri di pihak lawan. Jadi, ga ngaruh lah.

Jadinya .. ya gitu deh. Cerita mengalir lancar. Menarik dan tegang. Tapi .. begitu bukunya tamat dibaca, perasan kita jadi lega dan happy. Bagus sih. Tapi .. apa ga jadi gampang ketebak akhir ceritanya ya ? Ya iyalah. Empat bukunya happy ending kok. Ntar kita liat aja ya. Kalo ada buku kelimanya. Masih happy ending ga ? Kayanya sih iya lah.

Advertisements

Read Full Post »

Tokoh FIKTIF ?

Udah tiga minggu novel Laskar Pelangi hard cover kegeletak aja di rak buku, masih berbungkus plastik, sejak aku beli. Maksudnya sih, emang cuma buat koleksi doang. Since yg soft cover udah aku baca dan kemudian aku hibahin buat keponakanku, si Muthia. Akhirnya, kemaren, itu buku aku baca2. Ternyata ada edit sana sini. Timingnya sudah jelas. Kapan kejadiannya. Apakah di SD atau SMP.

Ternyata lagi, ada bonus VCD Andrea Hirata di acara kick Andy.

Baca baca .. nonton nonton … Pertanyaan yang terus ngambang muncul lagi. Mana si Lintang ? Di Kick Andy, si Syahdan dan Bu Mus datang. Terus, di screen, ada interview dengan Mahar, Harun, A Kiong, Kucai, dan Samson.

Nah .. mana Lintang ??

Si tokoh Lintang yang udah bikin keningku berkerut2 mbaca istilah2 science di novel tebal. Yang bikin aku keheran2. Apa iya, pertanyaan untuk cerdas cermat SMP di pulau Belitung udah setinggi itu ? Lah. Aku yg SMPnya di Palembang, ibukotanya Sumsel aja ga pernah nemu soal2 serumit itu kok. Kebanyakan, istilah2 science itu aku pelajari setelah SMA dan kuliah.

Trus, kenapa sih, tega2nya Bapaknya Lintang nyuruh anaknya nggowes sepeda 80 km tiap hari (Jakarta – Cikarang aja cuma 35 km). Emang ga ada ya sekolah laen yang lebih deket ? Kalo emang iya, kenapa cuma Lintang ? Kemana ya anak2 kecil tetangga si Lintang pergi sekolah ? Masa di kampungnya itu cuma dia aja yang sekolah ? 

Well, karena penasaran. Aku search dengan keyword “dimana lintang laskar”. Malah nemu beberapa site ini ..

Interesting ..

 

http://gedeblog.net/2008/10/16/fakta-laskar-pelangi.php

http://movie.detikhot.com/read/2008/11/08/143203/1033513/229/laskar-pelangi-fiktif-atau-nyata

http://movie.detikhot.com/commentpaging/2008/11/08/175707/1033606/229/3/andrea-hirata-saya-akan-luruskan

http://movie.detikhot.com/read/2008/11/08/122756/1033462/229/dituding-pembohong-andrea-hirata-minta-bukti

 

Kalo emang tokoh Lintang itu fiktif .. ya gapapa sih .. namanya juga novel. Dan se-enggak2nya, kalo emang cuma fiktif, bisa menguap juga jengkel aku sama temen2 dan gurunya si Lintang yang udah ngebiarin dia D.O dari SMP padahal dia udah nyumbang piala buat sekolahnya.

Nah, kalo tokoh Lintang itu emang bener ada … yo yo man .. ! Keluarlah dari persembunyianmu, kawan ! Tau ga ? SeIndonesia tu penasaran sama kamu !

Read Full Post »

Ga NYAMBUNG

Buku keempat dari tetraloginya Andrea Hirata baru aja aku selesaiin. Dari pertama liat deretan judul keempat bukunya dan gambar di covernya, aku nyangka buku yang ini bakalan ngebahas tentang seorang gadis pemain biola anaknya Mak Cik Maryamah, yang udah disinggung sedikit di buku kedua.

Nyatanya, buku ini cuma sedikit banget ngebahas si pemaen biola itu. Dan (rasanya) cuma dua kali menyebut nama Maryamah (Karpov).  Buku ini lebih banyak ngebahas suasana kampung dimana si Ikal tinggal. Tentang penduduknya, karakternya, adat istiadat dan kebiasaannya.

Gaya nulisnya juga sedikit beda. Baca buku ini udah bukan kaya baca novel. Tapi lebih kaya lagi ngebaca buku harian seseorang. Karna gaya bahasanya yang cenderung menyapa para pembacanya. A little bit uncomfortable. Soalnya, biasanya, diary orang itu kan private. Bukan sengaja dipaparin. Jadi, baca ‘diary’ Andrea Hirata kali ini kaya serasa udah ngobrak abrik privacy-nya.

Kalo buku pertama ttg perjuangan anak orang susah untuk bisa sekolah. Buku kedua tentang perjuangan yang sama, tapi di masa remaja. Buku ketiga tentang usaha Ikal mengejar pendidikan sampai ke luar negeri sekaligus bertualang ke Eropa, Afrika dan Rusia (bertualang sekaligus mencari si pacar pertama). Maka buku ke-empat ini adalah tentang Ikal yang telah berhasil dalam perjuangannya mengejar pendidikan tapi gagal memperjuangkan cintanya.

Tetap. Kisah perjalanan hidupnya ga biasa. Banyak anehnya. Atau dia aja yg pinter merekam mozaik-mozaik hidupnya hingga bisa jadi kisah hidup yg menarik, lucu, sekaligus tragis.

Tapi, kalo bisa diubah, mending diganti deh judul bukunya. Karna, IMHO (In My Humble Opinion), isi bukunya totally ga cocok sama judulnya.

Tapi, asli, aku ngakak guling2 sampe keluar air mata begitu baca tentang si Mahmuddin Pelupa yang ngumumin berita kematian. 🙂

Dan, menyenangkan, bisa tau kalo akhirnya ternyata hidup Lintang so far so good. 😉  

Karena ini adalah buku terakhir dari tetralogi. Keliatannya yang bisa aku simpulin setelah baca keempat buku ini adalah

Bahwa .. seseorang memang harus berjuang mati2an untuk mendapat apa yang diinginkan (pendidikan, uang, cinta, dll).

Tapi, tetap, Tuhan yang menentukan …

Read Full Post »

Kisah tentang DUA BUKU

Setelah mbaca Laskar Pelangi, dua hari kemaren aku abisin dengan mbaca dua buku lanjutannya. Sang Pemimpi dan Edensor. Uniknya, kedua buku ini bukan terdiri dari bab. Tapi Andrea Hirata ngebaginya menjadi beberapa mozaik. Karena baginya, kehidupannya memang terbagi2 atas kepingan2 kecil / mozaik2 yang akan tersusun dengan sendirinya menjadi satu kesatuan bentuk yang indah.

Buku Sang Pemimpi nyeritain kisah2 Ikal pas SMA. Kaya anak2 remaja pada umumnya. Mo di kota besar kek, mo di desa kecil di sebuah pulau kecil kek, ternyata remaja sama aja. Identik dengan kegiatan2 kenakalan. Cuma bedanya, tiga teman akrab ini ; Ikal, Arai dan Jimbron, mereka bukan cuma remaja yang nakal aja. Banyak nilai positifnya yang belom tentu bisa dijalani anak seusia mereka.

Bayangin aja. Mereka bertiga selaen sekolah, juga bekerja jadi buruh di pelabuhan. Hidup emang keras buat mereka. Tapi salut. Mereka bukan tipe pengeluh dan manja. Hidup sehari2 dijalani dengan gembira. Walaupun badan mereka letih luar biasa.

Dan keberanian mereka untuk memimpikan hal yang mungkin dianggap orang laen mustahil, mengingat mereka adalah anak2 dari keluarga ga mampu. Mereka bermimpi untuk belajar di Sorbonne, Prancis dan berkelana sampai ke benua Eropa dan Afrika.

Bab2 / mozaik2 terakhir dikisahkan mengenai Ikal dan Arai yang berniat merantau ke Jakarta (tapi mendarat di Bogor). Kerja serabutan untuk menghidupi diri. Kemudian mereka berpisah. Ikal kuliah di UI, Depok. Sementara Arai di Univ Mulawarman, Kalimantan. Akhirnya mereka bisa jadi sarjana tanpa meminta sepeserpun dari orangtuanya. Salut.

Buku bagian ketiga dari tetralogi berjudul Edensor.

Buku ini sama menariknya dengan kedua buku sebelumnya. Tentang Kisah Ikal dan Arai selama mereka pasca sarjana di Perancis. Gimana tipe2 teman2 mereka yang berbeda bangsa dan budaya.

Ikal yang dari SD sampe S1 termasuk cerdas. Tapi, begitu dia harus belajar di tempat kuliah S2nya, dia menggolongkan dirinya dengan 3 mahasiswa laen sebagai The Pathetic Four. Yaitu mereka yang berjuang mati2an hanya untuk lulus tiap mata kuliah dengan nilai C.

Edensor juga mengisahkan perjalanan mereka berkelana berkeliling Eropa hingga Afrika dengan modal nekat. Bener2 nekat. Karena mereka ga modal duit sedikitpun. Bahkan mereka mesti nyari duit dengan cara jadi seniman jalanan.

Selama berkelana itu juga, Ikal mencari jejak A ling, cinta pertamanya. Tentu aja ga ketemu. Tapi dia menemukan desa yang diimpikannya sejak SMP, sejak dia baca mengenai desa itu dari buku novel yang diberi A ling untuknya. Desa yang indah dan damai di Inggris. Desa yang bernama Edensor.

Apa yang menarik dari kedua buku ini adalah cara Ikal dan Arai yang berjuang sekuat tenaga untuk belajar. Menuntut ilmu. Mereka begitu mencintai ilmu pengetahuan. Dan nekat menempuh segala cara, yang halal tentu aja, untuk belajar dan belajar. Apa yang dianggap ga mungkin akan jadi mungkin dengan usaha yang keras dan doa.

Read Full Post »

Laskar Pelangi (LP). Baru kemaren aku selesaiin bacanya. Ngebaca buku itu kaya ngebaca novel2nya Dewi ‘Dee’ Lestari. Banyak istilah2 aneh yang perlu catatan kaki atau lampiran khusus untuk njelasin definisi2nya. Bedanya, novelnya Dee selang seling bab ‘berat’ penuh istilah dan bab ‘ringan’ yang gampang dicerna.

Sementara di LP ini, Andrea Hirata – sang penulis, terus2an ngehajar para pembaca dengan istilah2 berat sampe 30an bab. Dan cerita ngedadak ringan di bab2 berikutnya yang dipisahin selembar kertas bertuliskan ‘Dua belas tahun kemudian’.

Buku ini menceritakan kisah ringan dengan cara yang berat. Tentang kisah persahabatan 10 (untuk kemudian bertambah jadi 11) anak2 desa di Pulau Belitong dari sudut pandang tokoh yang bernama Ikal. Mereka (kecuali Flo), punya dua persamaan ; sama2 anak orang ga mampu dan sama2 suka mandang pelangi sambil manjat pohon di depan sekolahnya.

Dimulai dari pertemuan anak2 ini sewaktu mendaftar di SD sampe mereka tamat SMP. Kecuali satu tokoh yang dibuat berpisah dari teman2nya sebelum tamat SMP.

Tokoh2 lainnya termasuk Ikal, yang di buku ini ditokohkan sebagai ‘aku’, setelah besarnya menempuh jalan mereka sendiri2, yang (seperti kita juga) berbeda dengan cita2 mereka sewaktu kecil. Di sinilah diselipkan pesan2 moral dari Andrea.

Melalui tokoh Ikal yang dari kecil berdoa .. Ya Tuhan, jadikanlah aku penulis atau pemain bulu tangkis. Jika keduanya tak tercapai, jadikan aku apa saja, asal jangan jadi tukang pos. Dan jangan bebani aku dengan pekerjaan dari waktu subuh. Dan jreeeng .. begitu si Ikal tamat SMA, dia merantau ke Bogor, dan bekerja sebagai … tukang sortir surat di kantor pos ! Untung dia cepat berusaha untuk mengubah jalan hidupnya dengan belajar lebih keras lagi sampe dia bisa kuliah dengan beasiswa.

Tokoh Mahar lain lagi. Dia punya pendirian yang aneh. Dia ga mau nyari kerja. Dia yakin, kerjaanlah yang nyari dia. Sampe akhirnya dia sadar bahwa keyakinannya salah. Dan melakukan berbagai usaha untuk meraih cita2nya sekaligus mencari nafkah.

Tokoh2 lainnya juga. Andrea menyampaikan ke kita kalo kita memang harus usaha yang keras untuk bisa mengubah nasib kita. Ga bisa cuma dengan doa aja. Harus usaha juga.

Hanya tokoh Lintang yang dibuatnya terpaksa menyerah dengan keadaan. Padahal, di bagian awal2 buku ini, Lintang adalah tokoh yang bisa dibilang jadi pusat perhatian di dalam cerita. Tapi, nasib manusia di tangan Tuhan. Nasib tokoh cerita di tangan penulis. Lintang yang jenius, yang mengharumkan nama sekolahnya lewat pertandingan kecerdasan tingkat SMP dengan memberikan jawaban tepat dan benar bahkan sebelum si penanya sempat nyelesaiin pertanyaannya. Dibuat putus sekolah hanya empat bulan sebelum Ebtanas SMP karena alasan ekonomi. Dia dipaksa memilih untuk kerja, bukan sekolah, tapi nyari nafkah untuk menghidupi 14 anggota keluarganya karena ayahnya yang mendadak meninggal dunia.

Kejeniusannya dibuat sia2 karena hingga ketemu dg si aku 12 tahun kemudianpun, Lintang masih menjadi sopir truk di PN Timah. Tragis.

Kalo aku dibolehin ngubah jalur cerita ini, hmm … aku akan buat Pak Harfan dan Bu Mus ngebolehin Lintang ikut Ebtanas walaupun dia ga bisa masuk sekolah tiap hari karena harus kerja. Toh, si Lintang adalah anak jenius yang bisa belajar secara otodidak. Yang nyempet2in baca buku2 pengetahuan milik kepala sekolah waktu disuruh bersihin ruangan tsb.

Dan akan kubuat juga si Lintang untuk bisa memanfaatkan kecerdasannya. Akan kubuat Lintang jadi guru privat bagi anak2 orang kaya di sekolah PN sepulang dia sekolah, instead of dia harus kerja full-time sebagai buruh pabrik. Dan dia bisa nyelesaiin sekolahnya sambil nafkahin keluarga besarnya. Dan lama kelamaan Lintang akan kubuat punya lembaga kursus sebagai caranya membagi kejeniusannya dengan cara mengajar. Ah, sayang, Andrea ‘membunuh’ tokoh Lintang ini.

Eh, tapi, aku kan baru baca bagian 1 dari tetralogi. Mungkin di 3 bagian lainnya, nasib tokoh2 ini akan berbeda. Eh, tapi lagi, denger2, sebagian dari cerita di buku ini adalah true story ya ?

Kekurangan dari buku ini aku lihat dari alur penulisannya yang ga jelas timingnya. Atau tensesnya. Yang dibuat jelas hanya hari pertama masuk SD. Kelas 1 SD. Setelah itu, ga jelas. Apakah cerita di babak itu terjadi pas mereka kelas 4 SD atau waktu kelas 1 SMP atau kapan. Karena tokoh guru merekapun cuma satu. Bu Mus.

Lazimnya, guru itu berbeda2 di tiap kelas. Okelah, buku ini nyeritain sebuah sekolah miskin, dengan dana terbatas. Maka cuma terdiri dari 1 orang kepala sekolah dan 1 orang guru. Tapi, kalau cuma Bu Mus yang harus ngajar dari kelas 1 SD hingga 3 SMP dan untuk semua mata pelajaran (baca : seharian), apa mungkin ? Satu guru untuk 9 kelas. Ajaibnya lagi, Bu Mus ini ga cuma ngajar semua mata pelajaran untuk 9 kelas itu. Sempat2nya juga beliau sambil nasehatin satu persatu muridnya.

Aku pernah ngajar di SD desa tertinggal waktu aku KKN. SD yang kekurangan guru. Makanya sekali2 kami dateng ngebantu ngajar. Dalam sehari dateng, kelompok kami pontang panting, keluar masuk kelas. Satu orang ngajar 2 kelas. Itu aja udah sibuk banget rasanya. Ga kebayang jadi tokoh yang bernama Bu Mus. Harus ngajar 9 kelas. Berbagai mata pelajaran.

Trus, pohon yang ‘diduduki’ para Laskar Pelangi itu. Ada 9 kelas di sekolah itu. Masa iya, cuma mereka yang nguasai pohon itu selama 9 tahun ? Gimana dengan kakak kelas mereka ? Yaitu mereka yang udah SMP sewaktu para LP ini masih kelas 1 SD ? Apa ga pernah kakak2 kelas atau adek2 kelas mereka yang duduk di situ ?

Pertanyaan yang sama yang diajuin my hubby waktu nonton film Friends. Inget kan ? 3 cowo dan 3 cewe yang selalu duduk di sofa yang sama di sebuah cafe di kota New York ? Kenapa sofa itu seolah2 mereka penguasanya ? Kenapa mereka ga pernah duduk di kursi laen di cafe itu ?

Balik ke buku LP lagi. Dengan sedikit kekurangannya, buku ini secara keseluruhan bagus. Bagus banget. Mengingatkan kita bahwa betapa indahnya berbagi masa kecil yang bahagia dengan teman2 kita yang menyenangkan.

Read Full Post »

Bukunya para ABG

Kalo belom baca bukunya si Raditya Dika yang terbaru ; Babi Ngesot, inget satu aja pesen aku. Jangan baca buku ini sambil makan. Bakalan ilang selera makan ! Sumpah.

Kali ini buku si Dikung bener2 deh. Istilah2 kamar mandi banyak banget dipake. Jadi kalo punya kebiasaan baca buku sambil ngemil atau malah sambil makan nasi, wah … untuk buku ini lebih baek jangan deh. Not recommended.

Buku ini ga sebagus buku sebelumnya ; Radikus Makankakus. Kalo di RM, keliatan gaya penulis dan cara mikirnya yang makin dewasa. Walopun gaya ceritanya nyablak, buku RM bisa ngajak pembaca untuk berpikir hal2 positif. Itu bagus. Apalagi segmen pembaca buku ini adalah ABG. Mereka yang masih mencari jati diri. Mereka yang perlu motivasi diri untuk maju.

Babi Ngesot (BN) ini cuma kumpulan beberapa cerpen yang totally cuma jelmaan diary sang penulis doang. Ga ada ‘misi’ palagi ‘motivasi’. Malah beberapa cerpennya nyentil pilem bokep mulu. Bisa aja abis baca buku ini, para ABG malah jadi pengen nonton pilem bokep. Paling2 mereka bilang, lah ! Dika aja hobi nonton itu. Baca aja di bukunya. Kayanya sih biasa aja deh kalo seumuran gini nonton bokep. Nah lo. Wah ga kebayang, gimana berat pertanggung jawaban yang mesti ditanggung si penulis. Yang bukannya mengajak pembacanya (baca : para ABG) untuk lebih berpikir lebih maju tapi malah memotivasi ke kegiatan negatip yang ga2.

Kalo aku liat, dari buku Cinta Bronto ke Radikus, itu secara kualitas jauh meningkat. Tapi ke buku ke-4 ini, malah nge-drop. Ngedrop jauh. Menurut aku sih bikin tulisan apa aja boleh sih ya, asal ga ngejerumusin dan memotivasi orang laen berbuat negatip.

Read Full Post »

Buku DWILOGI

Tadi pagi baru slesai namatin dwilogi Ketika Cinta Bertasbih. Telat ya ? Biarin. Dulu beli buku jilid 1 nya waktu baru2 keluar. Eh … begitu jilid 2 nya keluar, lagi bener2 ga ada budget buat beli2 buku. Baru week-end kmaren belinya. Udah cetak ulang ke-6. Ck… ck.. banyak banget ternyata fansnya Kang Abik.

Komentar aku tentang buku ini ; secara keseluruhan bagus. Seperti biasa. Sang penulis bertutur santun. Tetap menempatkan tokoh2 utamanya sebagai mahasiswa S1 dan S2 yang lagi kuliah di Cairo, Mesir.

Tapi, lama2 kok aku ngerasa gaya nulis Kang Abik ini sama kaya penulis cerpen2 remaja di majalah Anita. Dulu. Dulu banget (jaman2 SMP) aku suka baca2 Anita. Tapi lama2 bosen. Jenuh. Soalnya cerpen2nya gitu semua. Tentang tokoh utama (cowo) yang pura2 jadi orang miskin tapi setelah diselidik2i, ternyata anak orang kaya. Atau tokoh utama (cewe) yang hidup sederhana banget cenderung sengsara, tiba2 ditaksir sama anak orang kaya. Pokoknya ujung2nya gitu deh. Ternyata anak orang kaya.

Gitu juga dengan novel KCB ini. Nyaris2 sama dengan Ayat2 Cinta (AAC). Tokoh utama (cowo) yang hidupnya pas2an akhirnya menikah dengan cewe cantik dan anak orang kaya.

Kalo di AAC, si cewe adalah WNA yang kekayaannya luar biasa banyak. Punya beberapa bidang usaha, warisan orangtuanya. Jadi, tanpa dia mesti kerjapun, rekening tabungannya selalu nambah. Nah, kalo di KCB, si cewe yang akhirnya diperistri sang tokoh utama adalah anak yang punya pesantren. Cantik, alim dan kaya. Happy ending versi dongeng2 fairy tale.

Kenapa status kekayaan harus diperjelas di seluruh novelnya Kang Abik ya ? Kenapa cewe2 yang naksir dg cowo tokoh utama itu harus selalu cantik2, pinter2 dan kaya ya ? Hmmm ….

Dan apa perlunya selalu ngulang2 jenis / merk kendaraan yang dipake sama tokoh2 di novel itu. Mungkin maksudnya cuma buat memperjelas tingkat kekayaan ? Apa ga cukup diceritain dengan bahasa gini “mengendarai sedan mewahnya” atau “menyetir mobil tipe SUV keluaran terbaru”. Gitu aja cukup kali ye. Ketimbang nyebut2 Vios lah, Fortuner lah, Supra X lah. Mending yang punya merk ngasih sponsor karena nyebut produknya berulang2. Lagian, masak sih Vios digemari orang kaya ? Bukannya Vios identik sama mobil taksi ? Bukannya orang malah males beli gara2 suka diledek “mobil lu pake argo ga nih”.

Balik ke novel KCB lagi. Sang penulis (aku nilai) terlalu memandang tinggi para lulusan Al-Azhar Cairo. Di hampir setiap dialog antar tokohnya, selalu disebut2 soal “lulusan Cairo” ini dengan nada kagum dan penuh pujian. Aku sih setuju2 aja. Memang udah seharusnya lulusan S1 dan S2 Al-Azhar Cairo itu jadi alim ulama / syaikh atau da’i yang hebat. Wajar kalo mereka pinter bahasa Arab. Lah. Sehari2nya pake bahasa itu. Tapi, lebih enak kalo perulangan menyebut lulusan Cairo itu hebat di novel ini dikurangin dikit. Jadi ga berlebihan.

Jadi, kesimpulannya menurut aku, novel ini lebih menarik kalo status kekayaan ga usah terlalu diperjelas. Jenis kendaraan digeneralisasi aja. Dan perulangan pujian untuk para lulusan Cairo itu dijadiin biasa aja, ga berlebihan. Ya gak, Kang Abik ? 🙂

Read Full Post »

Older Posts »